WORSHIP SONG


MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com

Rabu, 07 Oktober 2009

TENTANG KEMATIAN

MEMPELAJARI BENCANA & PERTOBATAN

LifeDear friend, hidup dan mati adalah di tangan Tuhan. Ingatlah, satu-satunya alasan kenapa kita masih hidup saat ini adalah karena masih ada pekerjaan Tuhan yang harus kita lakukan di bumi. So, kejarlah panggilanmu dan jadilah berkat. Posting kali ini membahas tentang kematian. Dengan tegas aku mengatakan bahwa, ramalan hanya berasal dari Tuhan. Iblis hanya meniru dan tidak bisa meramal. Iblis tidak mengetahui masa depan. Hanya Tuhanlah yang mengetahui dan berkuasa menentukan suatu bencana maupun kematian. Walaupun demikian, apabila datang sebuah ramalan dari Tuhan mengenai bencana atau kematian, belum tentu itu yang bakal terjadi. Lho kok bisa? Bukankah kalo dari Tuhan, itu pasti terjadi? Benar, tapi Allah masih punya hati, Ia bisa membatalkan suatu bencana karena sebuah pertobatan! Mari kita bahas bersama.

Elia, salah satu nabi yang paling aku sukai, pernah bernubuat terhadap Raja Ahab bahwa Tuhan akan membunuhnya dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarganya. Raja Israel ini, mendengar ramalan itu, langsung bertobat.

Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.

Allah melihat dan memperhatikan kesungguhan hati Ahab lalu mengampuninya.

“Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya” (I Raja-raja 21:27)

Itu adalah salah satu contoh mengenai nubuatan atau kejadian yang bakal terjadi, atau bahasa populernya: ramalan. Lebih spesifik yaitu ramalan mengenai kematian. Apabila Tuhan sudah menunjukkan hal-hal bersifat penghukuman maupun kematian baik lewat mimpi maupun melalui perkataan hamba-Nya, maka bertobatlah supaya ramalan tersebut tidak terjadi, karena sesungguhnya pengampunan Allah besar. Namun, bicara tentang ketulusan untuk bertobat, Allahlah yang paling mengetahui isi hati manusia. Mari kita lihat contoh berikutnya.

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” (2 Raj 20:1)

Menghadapi vonis mati dari dokter terhadap suatu penyakit kronis yang tidak bakal sembuh tentunya membuat hati pedih sekali. Tapi menerima nubuatan kematian dari nabi besar seperti Yesaya, tentunya lebih pedih lagi. Hizkia lalu spontan beseru dan menangis dengan keras di hadapan Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya. Allah mengampuninya.

“Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku (lihat pengakuan Tuhan): Beginilah firman TUHAN: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau dan Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi.” (2 Raj 20:5)

Jadi, Tuhan bisa membatalkan suatu kematian yang telah diramalkan sebelumnya karena pertobatan. Ini untuk personal, berikut ini kita bahas mengenai ramalan bencana atas wilayah atau suatu kota.

PERTOBATAN DAN PENJAGA KOTA

“Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” (Amos 3:7)

NuhSaat Tuhan berencana menjatuhkan hukuman-Nya, Ia terlebih dulu memberitahukan nabi-nabi-Nya. Itu adalah cara-Nya. Waktu Tuhan berencana memusnahkan seluruh isi bumi, Tuhan curhat dulu ke Nabi Nuh. Nuh tidak langsung berkotbah keliling memberitakan ramalan tentang banjir besar, Nuh membuat kapal sesuai petunjuk dari Tuhan. Faktanya kapal itu dikerjakan selama 100 tahun, itu sudah cukup menunjukkan kesabaran Tuhan untuk menuntun manusia di bumi kepada pertobatan. Tapi, pada kenyataannya selama 100 tahun ga ada yang mau bertobat. Kenapa sampai 100 tahun? Ini jawabannya: sampai semua orang yang memiliki telinga yang tinggal di bumi mendengar ramalan bahwa Tuhan akan memusnahkan isi bumi. Ingat, Allah sudah memperingatkan sebelumnya, jadi Allah terbukti adil dan benar dalam penghakiman-Nya. Namun sayang, seluruh dunia waktu itu, bukannya datang bertobat, malah menganggap Nuh seorang yang sinting.

Saatnya tiba, Tuhan sendiri yang menutup pintu kapal Nuh. Dengan demikian, maka ditutup pulalah kesempatan untuk bertobat. Ingat, semua manusia waktu itu mati secara perlahan. Air perlahan mulai naik dan mereka sadar benar ramalan sudah terjadi! Banyak yang berseru dan menyesal, sebab selama 100 tahun mereka menyia-nyiakan firman Tuhan. Alkitab mencatat bahwa waktu itu, segala yang bernafas di bumi akhirnya mati tenggelam and they die slowly. Mungkin ada yang berupaya datang menghampiri bahtera Nuh, but it’s too late!

Nuh3Aku kaget bener, saat menyadari bahwa Tuhan lebih mengasihi binatang dari pada manusia fasik, sebab mayoritas isi bahtera ternyata adalah hewan-hewan (wah!). Itulah alasan kenapa kapal dibuat dalam ukuran raksasa. Tidak sampai di situ saja, para hewan-hewan ini juga mendapat kehormatan menerima janji Tuhan, sama dengan Nuh (please read your bible). Jadi saat Tuhan melepas berkat-Nya, hewan-hewan ini juga mendapatkannya. Oh, betapa baiknya Engkau Tuhan, bahkan burung pipit Engkau pelihara dan Kau perhatikan. Jadi, kurang kerjaan banget sih kalo ada orang membunuh hewan, dengan tujuan bukan untuk dikonsumsi tapi just for fun, someday mereka bakal berurusan dengan Bapa di surga.

Tuhan ga pernah bikin banjir besar lagi sejak saat itu. Sebab Dia sudah berjanji dengan Nuh, ga akan ada air bah lagi melanda bumi. Mengingat bentuk bumi yang bulat, maka kalo banjir besar maka seluruh dunia akan diliputi air dan semua makhluk bisa mati. Yang ada juga saat ini adalah banjir lokal, hujan deras walaupun mengguyur cukup lama, pasti berhenti, abis itu dalam beberapa kesempatan muncul pelangi-itulah tanda perjanjian Tuhan pada Nuh.

FireSebab itu Allah mengganti metoda dan memakai hujan api dan hujan belerang saat menghukum kota Sodom dan Gomora. Kalo kita baca di alkitab, pasti tahu api dan belerang adalah material neraka. Berarti Allah mengirimkan neraka langsung ke kota Sodom dan Gomora. Ini kiamat lokal! Ingat, Allah juga menyampaikan rencana-Nya ini kepada Abraham. Abraham berdiri di hadapan Tuhan demi Sodom dan Gomora. Namun, sungguh disesalkan tidak sampai sepuluh orang benar di kota itu. Imagine, sepuluh orang benar saja bisa meluputkan suatu kota dari bencana besar.

Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” (Kej 18:32)

DeathTeman saya seorang non Kristen, mengatakan jika memang Tuhan ingin membuat suatu bencana besar seperti gempa bumi, biarlah itu terjadi di Los Angeles. Di LA memang banyak kebejatan, tapi ga semudah itu menghancurkannya, sebab ada orang benar juga di sana. Ingat, orang benar itu ibarat penjaga kota. Malaikat maut memang mengintai di atas langit, tapi tidak akan bisa memusnahkan suatu kota jika masih ada orang benar di dalamnya. So, intinya seluruh kota dilindungi jika ada cukup orang benar yang tinggal di sana.

Setelah kita bahas contoh pemusnahan bumi jaman Nuh, Sodom dan Gomora di jaman Abraham. Kita lihat lagi contoh yang lebih ekstrim yaitu Niniwe pada jaman Yunus. Waktu disampaikan warning bahwa 40 hari lagi (nih ramalan pakai tanggal) Niniwe akan ditunggangbalikkan, mereka berpuasa termasuk hewan-hewan (wah hewan dilibatkan lagi nih, ingat cerita Nuh sebelumnya). Niniwe, kota yang penuh kejahatan itu menjadi bertobat dan Allah akhirnya tidak jadi memusnahkan kota yang berpenduduk 120 ribu orang lebih tersebut.

Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya. (Yunus 3:10)

Aneh, Niniwe kota kafir, tapi saat Yunus datang, mereka mau percaya terhadap ramalannya. Inilah kebenarannya, bangsa kafir lebih menghargai firman Tuhan ketimbang umat Allah sendiri. Yeremia, menyampaikan juga ramalan mengenai bencana terhadap Yerusalem, tapi mereka tidak mau mendengar. Ternyata ga ada orang bener menurut pengamatan Tuhan di Yerusalem waktu itu. Bahkan untuk ukuran kota sebesar Yerusalem, bagi Tuhan cukup satu orang saja, maka kota tersebut diampuni. Namun tidak didapatkan-Nya saat itu.

Lintasilah jalan-jalan Yerusalem, lihatlah baik-baik dan camkanlah! Periksalah di tanah-tanah lapangnya, apakah kamu dapat menemui seseorang, apakah ada yang melakukan keadilan dan yang mencari kebenaran, maka Aku mau mengampuni kota itu. (Yer 5:1)

Saat Yesus datang ke dunia, Ia juga menubuatkan kejatuhan Yerusalem dan kehancuran bait suci, namun bangsa Israel tidak mau mendengarkan. Sampai Dia menyindir bahwa orang Niniwe lebih baik dari bangsa Israel di jaman itu.

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Luk 11:32)

Mengingat semakin meningkatnya bencana besar, gempa bumi, angin tornado, banjir lokal, wabah pandemi global dan sebagainya. Bukankah ini waktunya kita untuk menjadi pendoa syafaat bagi kota dimana Tuhan menempatkan kita? Mari kita mengasihi kota kita, sebagaimana Tuhan mengasihi Niniwe. Dalam beberapa kesempatan, aku melakukan doa keliling melepaskan berkat untuk kota dan menangisi jalan-jalan raya di kotaku tercinta. Dear friends, jangan berhenti mendoakan kotamu. Kita adalah penjaga kota. Kita dipanggil bukan untuk menghakimi kebejatan orang-orang di kota kita, kita dipanggil untuk mengasihi dan mendoakannya.

In God’s mercy,

John Jeshurun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar